eBook "Dunia Paralel"


Setelah sekian lama saya meng-copas artikel blog lain, sekarang ini saya membuat artikel dengan ketikan tangan saya sendiri, asli lho!!

Nah, kali ini saya akan memposting sebuah buku, atau tepatnya berbentuk eBook (Electronic Book) untuk sebuah buku yang berjudul "Dunia Paralel". Buku ini diterjemahkan oleh Sesa Media ke dalam Bahasa Indonesia, dan tidak untuk di komersialkan.


Dunia Paralel
Judul : Dunia Paralel

Pengarang : Michio Kaku

Tahun : © 2005

Halaman : 404

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, apalagi untuk kawan-kawan yang menyukai kosmologi, astronomi, fisika, mekanika kuantum, dll.

Berikut sinopsis dari buku ini :


BAB SATU
GAMBARAN BAYI ALAM SEMESTA

"Penyair hanya memohon agar kepalanya bisa memasuki langit. Sedangkan pemikir berusaha agar langit masuk ke dalam kepalanya. Dan sakitlah kepalanya." —G. K. Chesterson

SAAT KANAK-KANAK, saya memiliki konflik pribadi dalam keyakinan saya. Orangtua saya dibesarkan dalam tradisi Buddha. Namun saya mengikuti sekolah Minggu setiap pekan, di mana saya senang kisah-kisah bibel mengenai ikan paus, bahtera, pilar garam, gading-gading, dan apel. Saya terpesona oleh cerita-cerita Perjanjian Lama ini, yang merupakan bagian favorit saya dalam sekolah Minggu. Bagi saya cerita-cerita mengenai banjir besar, semak panas, dan air perpisahan jauh lebih menarik daripada meditasi dan nyanyian dalam agama Budha. Kisah-kisah heroisme dan tragedi kuno ini secara jelas menggambarkan pelajaran moral dan etika yang dalam yang telah menyertai saya sepanjang hidup saya.

Pada suatu hari di sekolah Minggu, kami mempelajari Genesis. Kisah mengenai Tuhan yang berkata keras dari surga, “Jadilah Cahaya!”, terdengar jauh lebih menarik dibanding bermeditasi dalam sunyi tentang Nirwana. Dengan polos saya bertanya kepada guru sekolah Minggu saya, “Apakah Tuhan memiliki ibu?” Biasanya dia memberikan jawaban yang tajam dan pelajaran moral yang dalam. Namun kali ini dia tercengang. “Tidak,” jawabnya ragu-ragu, “mungkin Tuhan tidak memiliki ibu.” “Lalu dari mana Tuhan berasal?” saya bertanya. Dia mengomel bahwa dirinya harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pendeta terkait pertanyaan itu.


Bagi kawan-kawan yang penasaran ingin membaca buku karangan Michio Kaku ini, silakan download eBook-nya di sini


We can check your plugins and stuff


Blog ini lebih bagus dibuka dengan web browser Mozilla Firefox pada resolusi 1024 x 768